Faiza Jannah - Walk In 17 th: Dara & Giory
Resensi Buku:Walk in 17 th:Dara&Giory
RESENSI BUKU:Walk In 17 th:Dara&Giory
1.IDENTITAS BUKU
Juduul Buku : Walk in 17th : Dara & GioryPengarang :Tiara Ridhati
Penerbit :Cloud Books Tahun Terbit : Juni 2024Kota Terbit :Depok, Jawa Barat
ISBN :978-623-5266-97-8
II. PENDAHULUAN
Di usia 17 tahun, seolah semua orang mengharapkan kita sudah tahu arah masa depan. Harus pintar, harus berprestasi, harus tidak mengecewakan. Padahal di balik senyum dan pujian, banyak yang diam-diam merasa lelah menanggung beban yang tidak terlihat. Begitulah gambaran dalam novel ini - bukan sekadar kisah remaja, melainkan tentang dua jiwa yang sama-sama berjuang menemukan tempat untuk diri sendiri, bahkan di antara keluarga sendiri. Buku ini saya pilih karena ceritanya dekat dengan keseharian kita: tekanan keluarga, impian yang terancam, dan keberanian menjadi diri sendiri.
III. ISI RESENSI
a. Ringkasan Isi Buku
Dara Atmadja adalah gadis pendiam dan pianis berbakat. Ibu Dara sudah meninggal sejak ia kecil, sehingga Dara tinggal bersama Papa dan Neneknya. Sayangnya, Nenek sangat tegas dan menuntut nilai tinggi, sementara Papanya terlalu lembut dan tidak berani menentang Nenek. Ketika nilai Dara turun sedikit, Nenek melarang Dara bermain piano - padahal piano adalah kenang-kenangan terakhir dari ibunya dan hal yang paling ia cintai. Papanya sebenarnya ingin membela, tapi tidak berani menentang ibunya sendiri, sehingga Dara merasa tidak ada yang membelanya.
Dara bertemu Giory Nalendra Barlianta saat bersekolah di SMA Pelita Dharma Intercultural School. Giory adalah kakak kelasnya yang populer, kapten tim sepak bola, dan tampak sempurna di mata semua orang. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Dara sedang menangis sendirian di Lapangan Macan. Ternyata mereka bukan orang asing - Ibu Giory adalah kakak kandung Papa Dara, jadi Dara dan Giory itu sepupu. Mereka makin sering bertemu dan mulai saling berbicara. Perlahan terungkap Giory juga menyembunyikan beban berat - ekspektasi orang tuanya membuatnya tak boleh terlihat lemah. Dara belajar berani menyuarakan keinginannya, sementara Giory belajar bahwa tidak apa-apa tampil rapuh di depan orang yang dipercaya. Bersama-sama mereka berjalan di usia 17 tahun, meraih mimpi tanpa kehilangan diri sendiri.
b.Analisis dan Ulasan
Kelebihan:
Ceritanya tulus dan tidak berlebihan terasa seperti kehidupan nyata remaja
Latar di sekolah membuat pertemuan mereka masuk akal, ditambah hubungan kekerabatan makin menguatkan ikatan mereka
Karakter digambarkan utuh: punya kelebihan sekaligus luka, tidak sempurna
Menggambarkan situasi keluarga yang nyata: Papa yang sebenarnya sayang tapi tidak berani bersuara
Pesannya dalam: nilai rapor bukan satu-satunya penentu masa depan
Bahasanya mudah dipahami, mengalir tenang, menyentuh perasaan
Kekurangan:
Alur agak lambat di beberapa bagian
Konflik keluarga Giory bisa digali lebih dalam lagi
Perbandingan: Dibanding novel remaja lain yang fokus pada asmara, buku ini lebih menonjolkan pertumbuhan diri, kepercayaan, dan dukungan antar keluarga.
c. Kutipan Penting
"Ternyata kita sama-sama capek, sama-sama takut tidak cukup.”
"Bakat bukan hal yang memalukan, dan angka di atas kertas tidak menentukan siapa kita sepenuhnya.”
"Piano bukan sekadar alat musik. Itu suara Ibu yang masih tersisa, satu-satunya cara aku bisa bicara padanya.”
"Tidak harus selalu kuat untuk berharga.”
IV. PENUTUP
Setiap orang punya perjuangan yang tidak selalu terlihat dari luar, bahkan di dalam keluarga sendiri. Keberhasilan bukan hanya soal peringkat atau pujian, melainkan berani memegang apa yang kita cintai dan berjalan bersama orang yang mengerti bahkan kalau itu sepupu kita sendiri. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk teman-teman remaja, siswa, dan siapa pun yang merasa sedang berjuang memenuhi harapan orang lain. Kamu tidak sendirian, dan berharga apa adanya.
V. IDENTITAS PENULIS RESENSI
a. Nama Lengkap : Faiza Jannah Ramadhani
b. Nama Sekolah dan Kelas : SMA Martia Bhakti, Kelas X.1.
c Nomor telepon/HP : 0857-1702-6792
d. Alamat Email :
Komentar
Posting Komentar