Luthfia - Helmi, Cello
RESENSI BUKU HELLO, CELLO.
I. IDENTITAS BUKU
a. Judul Buku: Hello, Cello
b. Pengarang: Nadia Ristivani
c. Penerbit: Bukune
d. Tahun Terbit: 2022
e. Kota Terbit: Jakarta
f. Jumlah Halaman: 428 halaman
g. ISBN: 978-602-220-438-1
II. PENDAHULUAN
Hello, Cello merupakan novel karya Nadia Ristivani yang mengangkat kisah percintaan dengan perpaduan unsur komedi dan kehidupan anak muda. Novel ini menceritakan Helga, seorang penulis yang sudah merasa lelah dengan urusan percintaan karena pengalaman buruk di masa lalu. Saya memilih novel ini untuk diresensi karena ceritanya ringan, memiliki tokoh-tokoh yang menarik, dan tidak hanya membahas percintaan, tetapi juga tentang seseorang yang berusaha berdamai dengan masa lalu dan membuka kembali hatinya.
III. ISI RESENSI
a. Ringkasan Isi Buku
Novel ini menceritakan Helga, seorang perempuan yang memiliki pengalaman kurang menyenangkan dalam percintaan. Ia menuangkan pengalaman dan kisah patah hatinya ke dalam buku-buku yang ditulisnya. Helga kemudian bertemu dengan Cello, seorang laki-laki yang dikenal populer dan sering berganti pasangan di kampusnya.
Awalnya, Cello sebenarnya ingin mendekati Una, sahabat Helga. Namun, keadaan justru membuat Cello semakin dekat dengan Helga. Berbeda dari perempuan-perempuan yang biasa ditemuinya, Helga bersikap cuek, unik, dan sering melakukan hal-hal yang tidak terduga. Hal tersebut justru membuat Cello semakin penasaran kepadanya.
Seiring berjalannya cerita, hubungan Helga dan Cello berkembang. Keduanya tidak hanya menghadapi persoalan mengenai perasaan, tetapi juga harus berhadapan dengan masa lalu dan luka yang masih mereka bawa. Dari hubungan tersebut, mereka belajar mengenai kepercayaan, keberanian untuk membuka hati, serta pentingnya menerima dan menghargai diri sendiri.
b. Analisis dan Ulasan
Salah satu kelebihan novel Hello, Cello adalah karakter tokohnya yang cukup kuat dan memiliki keunikan masing-masing. Tokoh Helga terasa menarik karena sifatnya yang tidak mudah ditebak, sedangkan Cello memiliki karakter yang bertolak belakang dengannya. Perbedaan karakter tersebut membuat interaksi keduanya terasa menghibur.
Bahasa yang digunakan juga cukup ringan sehingga novel ini mudah diikuti. Perpaduan antara cerita romantis, komedi, dan konflik kehidupan membuat alurnya tidak terasa terlalu berat. Dialog antartokohnya juga membuat beberapa bagian cerita terasa lebih hidup dan menghibur.
Selain kelebihannya, novel ini juga memiliki kekurangan. Beberapa bagian cerita terasa cukup panjang sehingga pembaca mungkin membutuhkan kesabaran untuk mengikuti perkembangan konfliknya. Selain itu, cerita yang berfokus pada hubungan percintaan membuat novel ini mungkin kurang cocok bagi pembaca yang lebih menyukai cerita dengan konflik yang kompleks atau genre selain romansa.
Secara keseluruhan, Hello, Cello memberikan cerita percintaan yang ringan tetapi tetap memiliki pesan mengenai proses menerima diri sendiri dan belajar dari pengalaman masa lalu.
c. Kutipan Penting
Beberapa kutipan dalam novel Hello, Cello yang menarik dan memiliki makna penting antara lain:
“Dua orang yang belum berdamai sama dirinya sendiri, nggak bisa bersatu sebelum hubungannya sama diri sendiri membaik.”
Kutipan tersebut menggambarkan pentingnya penerimaan diri sebelum seseorang menjalani hubungan dengan orang lain. Menurut saya, pesan ini menjadi salah satu hal menarik dalam novel karena mengajarkan bahwa hubungan yang sehat juga membutuhkan kesiapan dari dalam diri.
“Makanya orang bilang, jangan berdiri di depan pintu. Kalau mau masuk, ya masuk. Kalau mau keluar, ya keluar. Jangan halangin orang lain mau masuk atau keluar.”
Kutipan ini mengajarkan keberanian untuk mengambil sikap dan tidak menggantungkan seseorang dalam suatu hubungan. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kejelasan dalam hubungan penting agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
"Pisah dalam jangka waktu tertentu, fokus sama diri sendiri, fokus cintain diri sendiri, dan kalau sampe jangka waktu itu habis dan perasaan kita masih sama, that means we're meant for each other.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus terus bersama. Terkadang, seseorang perlu memberikan waktu untuk dirinya sendiri agar dapat berkembang dan memahami perasaannya dengan lebih baik.
IV. PENUTUP
Novel Hello, Cello karya Nadia Ristivani merupakan novel yang menarik bagi pembaca yang menyukai cerita romantis dengan sentuhan komedi. Ceritanya ringan, tokohnya memiliki karakter yang unik, dan hubungan antara Helga dan Cello membuat pembaca ingin mengetahui bagaimana perkembangan kisah mereka.
Menurut saya, novel ini layak dibaca oleh remaja akhir dan pembaca umum yang menyukai novel fiksi romantis. Selain memberikan hiburan, novel ini juga mengajarkan bahwa pengalaman buruk di masa lalu tidak seharusnya membuat seseorang berhenti untuk berkembang dan mengenal dirinya sendiri.
V. IDENTITAS PENULIS RESENSI
a. Nama lengkap: Luthfia Eka Cahyaningrum
b. Nama sekolah dan Kelas: SMA Martia Bhakti, X.1
c. Nomor telepon/HP: 081210319029
d. Alamat email: prttysviaa@gmail.com
Komentar
Posting Komentar